
Langgur, Lintas-Timur.co.id - Meski telah mencatatkan berbagai kemajuan di sektor kesehatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara mengakui masih dihadapkan pada sejumlah kendala mendasar, mulai dari kekurangan tenaga medis, distribusi yang belum merata, hingga kondisi fasilitas kesehatan yang butuh perhatian serius.
Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan, Muhsin Rahayaan, saat menanggapi pertanyaan dan keluhan masyarakat yang di kutip pada saat siaran RRI Tual Maluku Tenggara Menyapa, pada Rabu 20/5/26.
Dari 21 Puskesmas yang ada, masih terdapat 3 lokasi yang belum memiliki dokter, sementara kekurangan terjadi pada tenaga farmasi, laboratorium, hingga psikolog klinis. Kondisi sarana prasarana pun baru terpenuhi sekitar 46,5 persen secara umum.
“Masalah utama lainnya adalah kondisi 34 unit Puskesmas Pembantu (Pustu) yang tersebar di pelosok. Baru 6 unit yang kondisinya baik, sedangkan 28 lainnya dalam keadaan rusak berat maupun ringan.
Ini menjadi prioritas utama kami untuk direvitalisasi pada tahun 2027 agar akses warga di wilayah terpencil semakin mudah,” jelas Rahayaan.
Terkait keluhan masyarakat mengenai antrean panjang dan ketersediaan obat, ia memastikan persediaan obat esensial aman dan terjamin sepanjang tahun.
Kini masyarakat juga diminta memanfaatkan aplikasi Mobile JKN untuk mengambil nomor antrean secara daring agar tidak perlu menunggu lama di lokasi.
Isu lain yang banyak disorot adalah kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Meskipun cakupan kepesertaan sudah mencapai lebih dari 98 persen, masih ada keluhan terkait mekanisme penonaktifan peserta jika ada salah satu anggota keluarga yang diangkat menjadi ASN atau pegawai pemerintah.
Rahayaan menyebut hal ini murni aturan pusat, namun pihaknya berupaya mencari jalan keluar agar warga tetap terlindungi, salah satunya melalui skema jaminan kesehatan daerah.
Untuk wilayah Kei Besar, Rumah Sakit Pratama Elon yang baru beroperasi November 2025 terus dibenahi.
Meski standar layanan dasar sudah terpenuhi, pemerintah berkomitmen mengirimkan dokter spesialis secara berkala dan melengkapi sarana transportasi laut seperti speed boat untuk menunjang rujukan gawat darurat.
“Anggaran memang menjadi tantangan di masa efisiensi, namun kami membagi skala prioritas.
Mulai dari perbaikan air bersih di RSUD Karel, kebersihan lingkungan, hingga penambahan dokter spesialis mata dan anak akan terus kami dorong. Kesehatan adalah hak warga, dan kewajiban kami memastikan pelayanan itu ada dan berkualitas,” tutup Rahayaan.(**)