
Tual, Lintas-Timur.co.id – Kerawanan sosial kembali melanda wilayah Fiditan, Kota Tual. Bentrokan antara warga Fiditan Kampung Lama dan Fiditan Kampung Baru kembali meletus pada Minggu malam, 3 Mei 2026, sekitar pukul 23.40 WIT. Insiden ini diduga kuat dipicu oleh sisa-sisa dendam lama yang hingga kini belum menemukan titik terang.
Padahal, berbagai upaya perdamaian telah dilakukan secara maksimal, mulai dari jalur dialog hingga upacara adat. Para pemangku adat, termasuk para Raja setempat seperti Rat Tuvle (Raja Tual) Djafar Tamher, Rat Baldu (Raja Dullah) Bayan Renuat, dan Rat Sakmas (Raja Ohoitahit) Husein Reniuryaan, telah turun tangan menjembatani perdamaian melalui tradisi sumpah adat.
Namun sayang, ikrar damai tersebut seolah tak memiliki kekuatan hukum yang mengikat, karena konflik justru terus berulang.
Akibat bentrokan selama ini sejumlah korban luka berjatuhan dari kedua belah pihak dan harus segera dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) setempat.
Yang mengejutkan dan sangat disayangkan, insiden ini juga menimpa pihak keamanan, Kapolres Tual, AKBP Wanchi Des Asmoro, S.I.K., menjadi korban serangan panah di bagian kaki kirinya saat bertugas memadamkan konflik, sehingga ia pun harus mendapatkan perawatan medis di RSUD.
Perlu dicatat, ketegangan di wilayah ini sebenarnya sempat mereda setelah kunjungan tinggi Kapolda Maluku, Irjen Pol. Dr. Dadang Hartono, pada 25 Februari 2026 lalu. Saat itu, Kapolda tidak hanya menjenguk Kapolres Tual, tetapi juga memimpin langsung upaya de-eskalasi.
Pada 26 Februari 2026, kedua kelompok yang bertikai bahkan sepakat melakukan gencatan senjata di hadapan Kapolda Maluku dan jajaran Forkopimda.
Suasana damai sempat terasa, bahkan kurang dari seminggu setelahnya, warga dari kedua kubu tampak akrab saat bersama-sama melaksanakan kegiatan dendang sahur yang disaksikan langsung oleh Wakapolres Tual.
Ironisnya, meski berbagai tahapan rekonsiliasi sudah ditempuh mulai dari tingkat atas hingga pendekatan kultural, api pertikaian kembali menyala.
Hal ini memunculkan berbagai pertanyaan besar di tengah masyarakat: Mengapa konflik ini tidak kunjung usai?
Berdasarkan pantauan dan informasi yang dihimpun media ini, muncul spekulasi kuat bahwa konflik ini kini telah mengalami peralihan isu.
Ada dugaan bahwa terdapat pihak-pihak tertentu yang sebenarnya tidak menginginkan situasi aman dan kondusif tercipta di wilayah tersebut.
Salah satu sumber yang enggan disebutkan namanya menegaskan, jika untuk mengakhiri masalah ini secara tuntas, seluruh elemen pemangku kepentingan harus benar-benar duduk bersama dalam satu meja.
"Kita harus menggali akar permasalahan dari awal, termasuk menelisik kembali persoalan hukum adat yang berlaku di negeri ini. Hanya dengan cara itulah Kota Tual bisa benar-benar aman dan damai," tegasnya.(**)