
Langgur, Lintas-Timur.co.id - Pelantikan pengurus GP Ansor dan pembukaan Diklatsar Keenam mendapat perhatian khusus dari jajaran Nahdlatul Ulama (NU). Carteker Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Maluku Tenggara, H. Ahmad Raharusun, dalam sambutannya memberikan apresiasi tinggi sekaligus pesan mendalam bagi seluruh kader.
Ia menegaskan, keberadaan GP Ansor dan seluruh badan otonom NU bukan sekadar organisasi, melainkan benteng penjaga nilai agama, bangsa, dan adat istiadat yang ada di Bumi Larvul Ngabal.
H. Ahmad mengawali sambutannya dengan mengapresiasi semangat Pimpinan Wilayah GP Ansor Maluku beserta rombongan yang rela menempuh perjalanan jauh hingga tiba di Maluku Tenggara, sebuah bukti cinta yang besar terhadap organisasi.
Ia pun menyampaikan bahwa momen hari ini bukan sekadar seremonial pergantian kepengurusan, melainkan momentum penting untuk meneguhkan kembali komitmen pemuda NU.
"Kegiatan hari ini adalah cara kita meneruskan perjuangan Rasulullah SAW. Bagi kita warga Nahdliyin, prinsip dasarnya sederhana: setiap orang yang menghirup udara adalah saudara kita.
Berpijak pada konsep Wataniyah, Basyariyah, dan Islamiyah, kita hadir untuk menjaga persatuan, berhikmah kepada jam'iyah, dan juga berhikmah kepada pemerintah. Inilah konsep dasar Ahlussunnah wal Jamaah yang kita pegang," jelas H. Ahmad.
Ia menyoroti nilai filosofis Larhul Ngabal yang dipegang teguh masyarakat Maluku Tenggara, yang sangat selaras dengan semangat Aswaja: menjunjung hukum, adat, dan kebersamaan. Oleh karenanya, ia menitipkan dua pesan utama bagi pengurus baru.
Pertama, GP Ansor harus menjadi garda terdepan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila, serta jangan pernah memberi ruang sekecil apa pun bagi radikalisme dan intoleransi.
"Pengurus yang baru dilantik mengemban amanah besar. Jadilah benteng yang kuat".
Jangan biarkan paham yang bertentangan dengan semangat persatuan masuk ke daerah kita. Moderasi, toleransi, dan persatuan adalah darah daging kita," tegasnya.
Pesan kedua adalah soal kaderisasi. H. Ahmad sangat mengapresiasi penyatuan agenda pelantikan sekaligus kegiatan kaderisasi di Desa Letman.
Menurutnya, kader Ansor harus dicetak cerdas secara intelektual namun tetap kuat secara spiritual, keduanya harus berjalan beriringan.
Kader yang lahir dari pendidikan ini harus mampu menjadi jembatan harmonisasi antara nilai Islam, kebangsaan, dan kearifan lokal.
"GP Ansor bukan wadah mencari jabatan, melainkan wadah berhikmah bagi umat dan bangsa. Di pundak kalian tersimpan estafet perjuangan pendahulu. Bekerjalah dengan ikhlas, rendah hati, dan solid. Jadilah penyejuk, bukan pembuat gaduh.
Saya yakin dengan semangat Pengnan Aini Ain dan budaya Meren, GP Ansor Maluku Tenggara akan semakin maju, bermanfaat, dan disegani oleh masyarakat," pungkas H. Ahmad Raharusun.(**)