![]() |
Langgur, Lintas-Timur.co.id - Aksi pemalangan jalan yang dilakukan oleh warga masyarakat adat di Merauke, Papua Selatan, bukanlah tindakan sembarangan, melainkan bentuk ekspresi perlawanan atas serangkaian persoalan yang mengganggu hak-hak mereka.
Hal itu disampaikan Ketua Marga Kwipalo, Vincent Kwipalo, dalam rekaman video yang diterbitkan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua.
"Kami telah melakukan pemalangan jalan sebanyak dua kali untuk menahan upaya penerobosan, belum lagi lokasi-lokasi yang telah dijarah dan digusur tanpa pemberitahuan maupun persetujuan dari kami," tegas Kwipalo.
Menurutnya, awal kedatangan perusahaan luar ke wilayah tersebut tidak disertai dengan paksaan apapun.
Namun, dinamika berubah seiring dengan kunjungan berulang yang dilakukan pihak perusahaan tanpa memperhatikan keinginan masyarakat.
"Saat ini, saya melihat bahwa kunjungan berulang tanpa persetujuan jelas masuk dalam kategori paksaan terhadap pemilik hak atas tanah," ucapnya dengan nada tegas.
Kwipalo menegaskan bahwa tidak boleh ada paksaan terhadap siapa pun yang memiliki hak hukum atas tanahnya.
"Saya pernah menanyakan kepada pihak perusahaan: apakah ada undang-undang baru yang menyatakan bahwa seseorang bisa dipaksa menyerahkan haknya atas tanah? Mereka hanya bisa tersenyum, namun senyuman itu terasa pedih bagi kami," jelasnya.
Pada awalnya, sebagian masyarakat adat melihat kedatangan perusahaan sebagai kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan.
Namun, harapan itu sirna seiring dengan pemahaman bahwa konsep "kesejahteraan" yang ditawarkan tidak selaras dengan kehidupan mereka.
"Saat itu banyak yang berkata 'ini adalah peluang kesejahteraan', namun saya bertanya balik: kesejahteraan seperti apa yang dimaksud?
Hutan ini adalah sumber kehidupan bagi kami yang tinggal di kampung hutan karena dari makanan hingga bahan obat-obatan bisa kami temukan di sini.
Untuk mendapatkan uang, kami bisa berburu dan menjual hasil buruan.
Hutan adalah aset utama dan bank kita yang sesungguhnya," jelas Kwipalo.
Meski menghadapi tantangan berat, dia tetap memiliki keyakinan yang kuat terhadap masa depan masyarakat adat Merauke.
"Saya percaya, Tuhan akan membuka jalan bagi kami, dan atas kehendak-Nya maka akan terwujud.
Keajaiban pasti akan datang, karena Tuhan tidak pernah meninggalkan kami, masyarakat adat di Merauke," pungkasnya.(**)
