"Jangan Hanya Lihat Sampulnya", Rani : Publik Harus Memahami Akar Tragedi di Desa Danar"


Langgur, Lintas-Timur.co.id
- Masyarakat Desa Danar, Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan, Maluku Tenggara, baru sehari terakhir menghadapi ujian berat akibat bentrok internal yang menimbulkan korban baik dari sisi materi maupun nyawa.


Peristiwa ini segera menjadi sorotan publik dan viral di media sosial, namun pemberitaan yang beredar cenderung hanya menyoroti pembakaran rumah, sementara sisi lain dari tragedi luput dari perhatian publik.

Menanggapi hal ini, Rani Yanti Ngabalin, M.I.Kom, melalui rilis Sabtu 28/3/26 mengatakan bahwa menyajikan visual rumah terbakar memang mudah menarik perhatian publik.

Namun tanpa mengetahui latar belakang dan akar permasalahan yang menjadi penyebabnya.

"Tidak mungkin ada asap kalau bukan adanya api," ujarnya.

Menurut Rani, banyak pihak yang hanya mempublikasikan kejadian kebakaran, namun tidak melihat "luka yang lebih dulu hadir dan tertanam" yang menjadi pemicu konflik tersebut.

Korban dari pihak keluarganya mengalami luka serius akibat terkena panah wayer dan harus dirujuk ke Ambon untuk mendapatkan perawatan dari dokter ahli.

Mereka kini masih dalam kesakitan, dengan keluarga yang cemas dan meratapi kehilangan.


Keluarga almarhum Aimar Raharusun, korban jiwa dalam peristiwa ini, menyatakan bahwa dia bukan sekadar seorang anak atau nama belakang, melainkan bagian penting dari kehidupan anak-anak di kampung Danar.

Kepergiannya meninggalkan luka mendalam yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

"Meskipun kematian adalah ketentuan Allah SWT yang tidak dapat dihindari, namun cara kematian almarhum Aimar sangat sulit diterima akal manusia.

Tubuhnya memiliki banyak luka sayatan di seluruh bagian tubuh, hal ini membuat keluarga sangat sulit melupakan kehilangan yang tiba-tiba ini," jelas Rani.

Rani menegaskan apa yang dia sampaikan ini, bukan untuk melampiaskan kemarahan atau memicu pihak lain, melainkan untuk menyampaikan fakta agar publik memahami bahwa di balik video pembakaran rumah yang beredar, ada sisi lain yang lebih membutuhkan empati.

"Kesedihan akibat kehilangan harta benda memang menyakitkan, namun semuanya dapat diganti.

Namun kehilangan nyawa almarhum Aimar tidak dapat tergantikan sama sekali, karena dia telah pergi selama-lamannya," ujarnya.

Rani menyoroti bahwa opini publik cenderung menilai hanya dari "sampul" peristiwa, tanpa memahami "isinya", yang membuat narasi dan pandangan masyarakat menjadi tidak utuh.

"Korban dan rasa luka harus dilihat dari dua sisi dengan rasa keadilan yang sama, jangan hanya melihat sepihak namun secara utuh tanpa memihak," tegasnya.

Di satu sisi, ada kesedihan akibat kehilangan materi yang mendapat perhatian dan ucapan dukungan dari netizen.

Namun di sisi lain, ada kelompok yang tenggelam dalam kesedihan tanpa suara, karena rasa sedih mereka tidak tampak dalam video yang beredar luas.

"Semua telah terjadi dan ini menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa kesedihan itu sama dan tidak perlu diperbandingkan besar kecilnya.

Di balik setiap tragedi, rasa kemanusian haruslah yang utama," pungkas Rani.(**)

Lebih baru Lebih lama