
Langgur, Lintas-Timur.co.id - Front Pemuda Muslim Maluku (FPMM) Kota Tual akhirnya angkat bicara dengan nada tinggi. Gerah dengan beredarnya narasi negatif pasca-proses rekonsiliasi konflik antar warga, FPMM mengeluarkan peringatan keras kepada oknum-oknum yang mencoba memelintir agenda perdamaian menjadi komoditas politik yang memecah belah.
Ketua FPMM Kota Tual, Ruslani Rahayaan, menegaskan bahwa upaya perdamaian yang diinisiasi di Ambon baru-baru ini adalah langkah suci demi kemanusiaan, bukan panggung pencitraan atau agenda politik terselubung.
“Kami mencium adanya upaya sistematis dari oknum tertentu yang sengaja membangun narasi sesat. Mereka memelintir fakta agenda perdamaian hanya untuk menjatuhkan kredibilitas Pemerintah Daerah, khususnya Gubernur Maluku. Ini provokasi murahan yang sangat berbahaya!” tegas Rahayaan dengan nada geram, Senin 19/1/26.
Sinergi Tokoh untuk Stabilitas Maluku
Rahayaan menjelaskan, rekonsiliasi yang mempertemukan pemuda dari unsur Kei, Kailolo, serta Seram Bagian Barat (SBB) dan Timur (SBT) tersebut lahir dari niat tulus Ketua Umum DPP FPMM, Umar Key, bersama Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa. Fokus utamanya hanya satu: memastikan stabilitas keamanan dan merawat kembali akar persaudaraan yang sempat retak.
Namun sayangnya, langkah mulia ini justru dibalas dengan tudingan miring oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Bagi FPMM, serangan verbal tersebut bukan sekadar kritik, melainkan ancaman nyata bagi kedamaian yang sedang dirajut.
Peringatan Keras: Jangan Khianati Pela Gandong
FPMM Tual memperingatkan dengan tegas agar seluruh pihak menghentikan propaganda adu domba dan fitnah yang dapat membakar kembali luka lama di tengah masyarakat.
“Pernyataan kontroversial itu sangat menyesatkan. Jika ada yang terus memainkan isu ini demi syahwat politik atau kepentingan sempit, berarti mereka telah mengkhianati nilai luhur Pela Gandong dan semangat persaudaraan orang Maluku,” tegasnya menutup pembicaraan.
Sebelumnya, dialog perdamaian bersejarah bertajuk Rekonsiliasi Pemuda Maluku sukses digelar di Ambon. Pertemuan ini menjadi tonggak penting dalam mengakhiri ketegangan antar wilayah dan mengembalikan suasana kondusif di Bumi Raja-Raja.(**)