![]() |
Tual, Lintas-Timur.co.id - Fakta demi fakta dalam kasus kecelakaan lalu lintas yang terjadi pada Minggu (24/5/2026) di Desa Ohoitel, Kecamatan Dullah Utara, Kota Tual, kian terungkap dan mengerucut pada satu kebenaran.
Peristiwa nahas itu menyebabkan dua perempuan menderita luka berat hingga patah tulang, bahkan salah satunya dikhawatirkan akan mengalami cacat permanen seumur hidup.
Kedua korban tersebut adalah Nur Afi Rengirit (40 tahun) yang mengalami patah tulang pada kaki kanan, serta Ijawati Atbar yang kini dirawat di Rumah Sakit Maren Kota Tual dengan luka patah tiga tulang rusuk dan benturan keras di bagian kepala hingga menyebabkan pendarahan hebat.
Ijawati Atbar mulai dapat bercerita kembali dan memberikan keterangan rinci mengenai apa yang dilihat dan dialaminya sesaat setelah kecelakaan terjadi, tepat sebelum pandangan ia tertutup akibat banyaknya darah yang keluar menutupi mata akibat luka di kepala.
Menurut ingatannya yang masih jelas, saat dirinya dan rekannya terpental jatuh, orang pertama yang datang mendekat dan menolong adalah Rifai Sether. Tak lama kemudian muncul dua orang lainnya yang ikut membantu, yakni Ipin dan Oca.
"Setelah kami diangkat dan dimasukkan ke dalam mobil yang tadi menabrak kami, pandangan saya mulai kabur dan gelap karena banyak darah bercucuran menutupi pandangan sehingga saat di mobil tidak melihat siapa-siapa lagi
Namun yang saya pastikan, orang yang menolong dan di kenali saat sebelum pandangan tertutup darah adalah jelas Rifai, Ipin dan Oca, setelahnya tidak bisa melihat karena pandangan sudah tertutup darah.
Keterangan ini sejalan persis dengan apa yang sebelumnya telah disampaikan oleh Nur Afi Rengirit. Ia pun mengakui dan memastikan bahwa yang mengemudikan kendaraan saat kejadian dan yang membawa mereka berdua menuju rumah sakit adalah Rifai Sether.
Kesamaan keterangan dari kedua korban ini memperjelas siapa saja yang berada di tempat kejadian, sekaligus menetapkan Rifai, Ipin, dan Oca sebagai saksi kunci sekaligus pihak yang terlibat langsung dalam penanganan di lokasi saat evakuasi.
Berdasarkan kesaksian yang kuat dan saling menguatkan ini, muncul pertanyaan besar: bagaimana mungkin nantinya akan ada nama baru atau pihak lain yang dikemukakan sebagai pengemudi kendaraan, padahal dalam ingatan dan pengakuan korban tidak pernah terlihat maupun disebut nama orang lain.
Hal ini sekaligus menepis kabar yang mulai beredar menyebut nama Tamuda Letsoin alias TL sebagai sosok yang diduga mengemudi, yang dinilai keluarga hanyalah rekayasa semata.
Merespons perkembangan ini, Nizar Salim Sether selaku perwakilan dan keluarga dekat korban, menyampaikan harapan sekaligus meminta agar penyidik dapat obyektif dalam menangani kasus ini.
Ia meminta proses hukum dijalankan secara objektif, transparan, murni berdasar fakta, dan lepas dari segala bentuk kepentingan atau intervensi pihak tertentu.
"Kami minta kepada penyidik, lihat dan teliti apa yang sudah ada di depan mata. Kendaraan pelaku sudah disita dan diamankan, saksi sudah ada, keterangan korban sudah jelas.
Sangat tidak masuk akal dan janggal jika benda bukti sudah ada tapi pemilik atau pengemudi kendaraan tidak juga diamankan atau ditetapkan statusnya.
Ini pola yang kami khawatirkan, sedang disusun strategi untuk mengatur orang lain seolah-olah dia yang bawa mobil, padahal kenyataannya tidak," tegas Nizar.
Ia pun mengingatkan kembali kasus yang menimpa keluarganya dua tahun silam, di mana Rifai Sether juga terlibat namun lolos dari penjara karena hanya hukuman percobaan 1 tahun tanpa kurungan.
Menurutnya, sejarah kelam itu tidak boleh dan tidak akan dibiarkan terulang kembali saat ini.
"Dulu dua tahun lalu saat adik saya Jihan Hasan Rengirit mengalami hal serupa, Rifai bisa lolos dan kasusnya mengambang.
Tapi ingat baik-baik, kali ini kondisinya beda, kami tidak akan diam, kami akan kawal perkara ini sampai titik terakhir dan sampai keadilan benar-benar terwujud," tandasnya.
Jika tidak, pihak keluarga menyatakan akan mengambil langkah tegas sendiri demi membuktikan kebenaran dan menuntut hak.
"Kami berikan waktu sampai Minggu depan, Kalau sampai batas itu belum ada kepastian atau malah ada pengubahan fakta, jangan salahkan kami.
Nizar juga mengeluarkan pernyataan keras pada Kasat dan Penyidik agar bekerja secara profesional dan jujur, mengingat ada hubungan emosional antara Kasat lantas dan Rifai Sether, ungkapnya.
Jangan main-main dengan kasus ini, karena kami sudah pegang semua bukti dan kebenaran," pungkas Nizar dengan nada serius dan tegas. (**)
