Bupati Malra Resmikan Tugu 100 Tahun Kekristenan di Jemaat GPM Soindat, Dorong Iman yang Kuat di Zaman Modern


Langgur, Lintas-Timur.co.id
- Bupati Maluku Tenggara Muhammad Thaher Hanubun menghadiri acara peresmian Tugu Kenangan 100 Tahun Kedatangan Injil yang diselenggarakan di Desa Soindat, Kecamatan Kei Besar Selatan, hari Minggu (28/12/2025).


Kehadirannya yang didampingi pimpinan Forkopimda telah meninggalkan kesan mendalam bagi warga setempat.

Dalam sambutannya, Bupati Thaher menyampaikan ungkapan religius yang mencerminkan iman: "Agama memiliki seratus jiwa". Setiap hal yang mati pada kali pertama akan hilang selamanya, kecuali agama. Meskipun sebanyak seratus kali dibunuh, agama akan selalu bangkit kembali karena memiliki Roh yang abadi.

Menurutnya, di tengah kemajuan teknologi dan modernitas yang pesat, manusia kini kembali menyadari bahwa agama tetap menjadi pegangan dan kompas yang mengarahkan setiap langkah hidup.

Agama hadir sebagai elemen yang menstabilkan dan mendorong perubahan, mengatur realitas kehidupan manusia yang seringkali penuh dengan ketidakstabilan. Seperti yang dikemukakan sosiolog Karl Manheim, agama berperan memberi makna dan penjelasan atas kehidupan masyarakat.

Bagi para penganutnya, agama tetap memiliki arti penting meskipun teknologi telah berkembang menjadi kekuatan tersendiri di zaman sekarang.

"Hal ini terbukti melalui perjalanan 100 tahun kedatangan Injil di Ohoi Soindat, di mana Kekristenan telah memainkan peran signifikan dalam kehidupan warga sejak pertama kali masuk ke daerah ini," ujar Bupati.

Kekristenan yang dianut warga Soindat dihayati sebagai jalan menuju keabadian sejati bersama Allah di surga. Meskipun dalam perjalanan panjang itu terdapat berbagai tantangan – termasuk kemungkinan kekosongan pendeta yang kemudian diisi oleh guru agama – iman jemaat tidak pernah goyah.

"Tantangan-tantangan itu seharusnya menjadi semangat bagi generasi muda saat ini," tegasnya pada akhir sambutan.

Bupati juga berpesan kepada seluruh jemaat GPM Soindat untuk menghayati inti iman yang mereka anut, dan menjadikan perbedaan bukan sebagai hal yang memisahkan, melainkan sebagai warna yang memperindah keragaman.

Dengan semangat iman yang tulus dan cara hidup sesuai kehendak Tuhan, segala upaya untuk mewujudkan kesejahteraan dan kehidupan yang lebih baik akan tercapai. Maluku Tenggara membutuhkan manusia yang tidak hanya beragama, tetapi juga benar-benar beriman.(**)

Lebih baru Lebih lama