
TUAL, LINTAS-TIMUR.CO.ID — Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, Sakti Wahyu Trenggono, secara resmi meluncurkan implementasi kerja sama perikanan tangkap Indonesia–Tiongkok sekaligus melepas 33 kapal perikanan yang siap beroperasi di PT Samudera Indo Sejahtera (SIS) Ngadi, Kecamatan Dullah Utara, Kota Tual, Kamis (24/9/2026).
Kegiatan ini menjadikan Tual sebagai pusat industri perikanan nasional yang baru, dengan fokus pemanfaatan kekayaan sumber daya ikan di Laut Arafura — kawasan yang selama ini dinilai belum dikelola secara optimal untuk kesejahteraan masyarakat setempat.
Hadir dalam acara tersebut Kapolda Maluku, perwakilan Komandan Kodam IX Udayana, Wakil Ketua DPRD Provinsi Maluku Arsya Sangkala, Ketua DPRD Kota Tual Aisyah Renhoat, Ketua DPRD Maluku Tenggara Stefanus Layangan, Wali Kota Tual Ahmad Yani Renhoat, Bupati Maluku Tenggara Muhammad Thaher Hanubun, jajaran pejabat eselon I KKP, segenap unsur Forkopimda, pelaku usaha perikanan dari Indonesia dan Tiongkok, tokoh masyarakat, pelaku UMKM, serta para nelayan.
Dalam pidatonya, Menteri Trenggono menyampaikan bahwa pencapaian ini merupakan hasil perjuangan panjang sejak 2019 untuk menyusun regulasi dan meyakinkan berbagai pihak agar berinvestasi di sektor perikanan.
"Saya ingat, saat masih menjabat Sekretaris Pertahanan, Direktur Jenderal Perikanan Tangkap datang menemui saya membawa tamu dari perusahaan GBS dengan valuasi pasar mencapai 30 miliar dolar AS.
Beliau bertanya: adakah perusahaan perikanan Indonesia yang bernilai minimal 1 miliar dolar AS? Saya jawab: belum ada. Bahkan yang mencapai 100 juta dolar pun belum ada," ungkap Menteri.
Fakta itu menegaskan keterbelakangan yang terjadi akibat kebijakan yang tidak tepat satu dekade lalu, sehingga potensi laut yang luar biasa besar ini tidak melahirkan pelaku usaha berskala global.
"Produksi perikanan kita mencapai 13 juta ton ikan ditambah 10 juta ton rumput laut per tahun, dengan nilai ekspor yang kini menembus 5 miliar dolar AS — angka tertinggi dalam puluhan tahun.
Namun kita tertinggal 10 tahun. Hari ini, di Tual, kita mulai mengejar ketertinggalan itu," tegasnya.
Melalui skema kerja sama TCG, 33 kapal yang diluncurkan akan beroperasi di perairan Arafura. Hasil tangkapan tidak hanya diekspor, melainkan didaratkan dan diolah di Tual, sehingga memberikan nilai tambah, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi nyata bagi warga Kepulauan Kei.
"Kekayaan laut inilah yang dulu membangun kota di seberang lautan. Kini, giliran Tual yang dibangun dari hasil lautnya sendiri. Kita tidak boleh tertinggal lagi," tandas Trenggono.
Kerja sama ini diproyeksikan mengubah wajah ekonomi Kota Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara, menjadikannya gerbang utama perikanan nasional di wilayah timur Indonesia.(**)