
Langgur, Lintas-Timur.co.id - Masyarakat Kabupaten Maluku Tenggara yang berniat memiliki rumah sendiri melalui program KPR-FLPP diimbau untuk tidak menunda proses pengurusannya.
Pasalnya, harga jual yang saat ini dipatok di kisaran Rp185 juta per unit dikhawatirkan akan mengalami kenaikan jika proses pembangunan terlambat, mengikuti dinamika ekonomi global dan fluktuasi nilai tukar mata uang.
Peringatan ini disampaikan Esebius Utha Savsavubun selaku perwakilan pengembang CV IT5 saat memaparkan progres proyek dalam sosialisasi di Aula Kantor Bupati, Selasa (19/5/2026).
Menurutnya, angka Rp185 juta adalah harga terbaik saat ini dalam rangka mendukung Program Strategis Nasional (PSN) untuk membangun tiga juta rumah bagi rakyat.
Namun, ketidakpastian ekonomi bisa mengubah hitungan biaya pembangunan sewaktu-waktu.
“Harga saat ini sekitar Rp185 juta. Tetapi kami harus jujur, angka ini berpotensi naik jika kondisi ekonomi dan kurs dolar berubah.
Saran kami, manfaatkan kesempatan sekarang, jangan menanti nanti saat harganya mungkin sudah lebih mahal,” ungkap Utha.
Kendati lahan di kawasan Puncak Kolser seluas lebih dari dua hektare sudah tersedia dan siap dikembangkan, Utha mengakui saat ini progres Maluku Tenggara masih berada di tahap persiapan dan administrasi.
Ia sedikit menyinggung kondisi di Kota Tual yang disebut sudah bergerak lebih cepat menuju pembangunan fisik, sementara di Maluku Tenggara masih menunggu kelancaran proses birokrasi dan perbankan.
“Kami berharap seluruh rangkaian administrasi, khususnya dari pihak perbankan, dapat berjalan cepat dan lancar. Jangan sampai prosesnya berlarut-larut. Lahan sudah ada, rencana sudah matang, kami ingin masyarakat segera merasakan manfaat program ini,” harapnya.
Dalam kesempatan itu, Utha juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran Direktur Utama CV IT5, Muhammad Tadi Salam Fisi, Ia menjelaskan pimpinan utama pengembang berhalangan hadir karena harus menyelesaikan agenda penting di Jakarta, sehingga tugas menjelaskan teknis proyek diserahkan kepadanya.
Program rumah subsidi ini menjadi angin segar bagi warga Maluku Tenggara yang selama ini kesulitan mengakses hunian terjangkau.
Dengan dukungan pemerintah daerah dan konsep perumahan yang tertata rapi, proyek ini diharapkan tidak hanya menyediakan atap bagi warga, tetapi juga membentuk kawasan permukiman baru yang tertib, aman, dan sejahtera.(**)